Virtual Summer School Program Day #2

Youth Subculture in Online Learning

WhatsApp Image 2021-09-08 at 19.44.22
WhatsApp Image 2021-09-08 at 19.44.23

Previous
Next

Selasa (24/08/2021) dalam pertemuan hari ke-dua Virtual Summer School Program PGSD UPI Serang, tema materi yang dibahas adalah youth subculture in online learning yang dibawakan oleh dosen sekaligus peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang yaitu Bapak Tatang Suratno, M.Pd. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan bahwa youth subculture itu berasal dari mana saja dan dimana saja. Di Indonesia siswa biasa mengekspresikan youth subculture-nya dalam bentuk cosplay, kemudia bermain game, kata-kata yang mereka tulis, penyampaian ekspresi melalui emoji, dan akhir-akhir ini siswa marak mengekspresikannya dengan tarian di sosial media seperti platform tiktok, instagram, dan yang lainnya. Lucunya, sebelemunya siswa Indonesia mengungkapkan ekspresi mereka ditempat yang sangat beragam mulai dari meja belajar di sekolah, tembok toilet sekolah, dan bahkan di buku tulis mereka. Selain itu beberapa kata-kata yang digunakan remaja di Indonesia sangatlah nyeleneh dan menggelikan sehingga membuat kata-kata rahasia tersebut kemudian menjadi trend dikalangan remaja. Beberapa kata yang sedang trend akhir-akhir ini adalah istilah insecure, kids zaman now, kepo, dan juga dakjal.

Siswa Indonesia senang sekali membuat artefak di sekolah. Mereka akan menulis apa yang mereka pikirkan di meja mereka dengan menggunakan tipe-X. Biasanya anak-anak akan menuliskan nama teman mereka dengan tanda love kemudian menambahkan nama lain disebelahnya, seakan-akan anak ini mencomblangi teman sekelasnya tapi tak jarang tulisan yang mereka jadikan artefak ini mengandung pesan rahasia dan hanya anak yang menulis itu yang mengerti apa yang mereka tulis. Setelah itu para peserta diperintahkan untuk mendiskusikan kebiasaan siswa di daerah mereka dalam pembelajaran online di sebuah room diskusi, setelah menyampaikan pengalaman para peserta mereka di kembalikan pada room utama. 

Setelah itu dapat ditarik kesimpulan youth subculture and unculturation mengajarkan kita how children acquire and define their own systems of meaning and action? How adult learn from children’s culture creation? How education system regard children’s way of making meaning and action? And how school create situation to engage community in fostering ‘children cultural creation’. Tentu saja banyak perbedaan menarik dari kegiatan pembelajaran online ini dengan kegiatan pembelajaran tatap muka, terdapat banyak hambatan juga dalam pelaksanaannya. Namun Pak Tatang menjelaskan contoh bagaimana program pembelajaran dapat berjalan dan berlangsung dengan baik dengan menggunakan program tokatsu dimana anak diajak berdiskusi mengenai minat dan juga apa potensi yang mereka miliki. 

Program ini lebih mengedepankan potensi anak ketimbang memperbaiki kekurangan anak, sehingga jauh lebih potensial dalam membantu anak membangun dirinya. Mahasiswa dari luar negeri pula menganggap hal ini adalah hal yang sangat potensial dan terkadang seorang learner juga lupa jika mengembangkan potensi anak jauh lebih penting dan efisien ketimbang memperbaiki kekurangan yang anak miliki.

Share the Post:

Related Posts